Skip to main content
Pertarungan Melawan Mis/Disinformasi

Pre-bunking: Era Baru Pertarungan Melawan Mis/Disinformasi

Tak dipungkiri, sejauh ini publikasi hasil pengecekan fakta kurang mampu menjangkau orang sebanyak dan secepat jangkauan hoaks. Sebab itu, ada baiknya kita meminjam prinsip dari dunia kesehatan, “mencegah lebih baik daripada mengobati”, untuk memerangi informasi salah maupun menyesatkan atau mis/disinformasi.

Persebaran hoaks dan misinformasi seringkali lebih cepat dari informasi yang dibuat jurnalis atas suatu isu atau kasus yang menyangkut kepentingan publik. 

Karena itu proses membongkar kebohongan, taktik, atau sumber informasi sebelum tersebar—yang disebut prebunking—sangat penting dilakukan. Cara ini cepat dan murah dilakukan oleh reporter, pemeriksa fakta, pemerintah, dan lainnya.

Jadi pada dasarnya, prebunking dilakukan dengan ‘menyuntikkan informasi palsu atau menyesatkan’ kepada pembaca atau pendengar agar mereka tahu contoh-contoh informasi yang salah. Dengan begitu, mereka akan lebih siap untuk mengenalinya dan mempertanyakannya. 

Ini sama halnya dengan vaksin yang melatih respons kekebalan kita terhadap virus hoaks yang berbahaya. Mengetahui lebih banyak tentang informasi yang salah dapat membantu kita untuk lebih mudah mengenali, mengabaikan, kemudian tidak menyebarkannya.

Sebuah studi dari jurnal Science Advances yang dirilis 24 Agustus 2022, menunjukkan bahwa “prebunking” adalah cara yang efektif untuk melawan teknik propaganda di pusaran misinformasi dan disinformasi. Para peneliti Cambridge yang bermitra dengan Jigsaw, cabang studi Google, menemukan bahwa pengecekan fakta menyerupai pengobatan gejala penyakit. 

Alhasil, jika debunking lebih berfokus pada membongkar atau menunjukkan di mana letak salahnya suatu informasi, teknik prebunking lebih mirip layaknya penyuntikan vaksin. Prebunking harus memberdayakan: Intinya, ini soal membangun kepercayaan dengan audiens, bukan sekadar mengoreksi fakta.

Ada tiga jenis utama prebunking:

  • Berdasarkan fakta: mengoreksi klaim atau narasi palsu tertentu
  • Berbasis logika: menjelaskan taktik yang digunakan untuk memanipulasi
  • Berbasis sumber: menunjukkan sumber informasi yang buruk

Penelitian telah menunjukkan bahwa pendekatan berbasis logika memiliki manfaat yang luas. Jika Anda mengajarkan orang untuk mengenali taktik, mereka dapat menemukannya lebih sering daripada klaim individu.

John Cook, peneliti di Pusat Penelitian Komunikasi Perubahan Iklim di Monash University di Melbourne, Australia, mengeksplorasi inokulasi selama bertahun-tahun. Dia menyusun First Draft. Dia merumuskan beberapa hal penting soal prebunking berikut ini.

Pertama, cari tahu informasi apa yang dibutuhkan orang

Antisipasi pertanyaan audiens sasaran Anda. Jangan berasumsi bahwa pertanyaan yang penting menurutmu, sama dengan pertanyaan audiens. Gunakan tools seperti Google Trends untuk mencari tahu pertanyaan atau masalah yang sedang tren, hubungi tokoh komunitas, dan pertimbangkan untuk membuat ruang tempat orang dapat mengirimkan pertanyaan mereka.

Apa yang masih dianggap membingungkan? Narasi apa yang sudah ada sebelumnya yang mungkin dieksploitasi oleh aktor jahat? Apakah ada acara yang akan datang, termasuk pemilu atau kampanye kesehatan, yang mungkin memerlukan lebih banyak informasi? Bagaimana Anda dapat membantu orang mengidentifikasi taktik dan narasi ini sehingga mereka cenderung tidak jatuh hati dengan narasi tersebut?

Kedua, hati-hati dalam memilih contoh

Beberapa hoaks biasanya muncul berulang kali alias ‘bersemi kembali’. Nah, fokuslah pada hoaks semacam ini.

  • Fokuslah pada klaim saat kemungkinan besar terdapat momen-momen krusial, misalnya perubahan tanggal pemilu.
  • Fokuslah pada taktik jika kamu ingin membangun kekebalan masyarakat terhadap disinformasi. Si pembuat hoaks bisa saja menggunakan pakar abal-abal untuk mendukung narasi bohong atau menggunakan bahasa emosional untuk memanipulasimu.

Cook menemukan contoh ini saat meneliti inokulasi terhadap kesalahan informasi perubahan iklim. Dia menunjukkan kepada para peserta contoh taktik yang digunakan dalam misinformasi tentang tembakau. Setelah itu, mereka semua dapat menemukan informasi yang salah tentang perubahan iklim terlepas dari keyakinan politik mereka.

“Ini memberi tahu kita bahwa di mana pun Anda duduk dalam spektrum politik, tidak ada yang suka disesatkan,” kata Cook.

Ketiga, bungkus dengan kebenaran

Prebunking mengutamakan kebenaran. Itu berarti memimpin dengan fakta atau peringatan yang sangat jelas tentang bagaimana informasi dimanipulasi. "Sandwich kebenaran" atau pembungkus faktual berfungsi untuk prebunking maupun debunking (teknik memberi sanggahan dengan memberi informasi yang benar dan terverifikasi).

Keempat, peringatkan audiens

Sebelum Anda membahas suatu hoaks, peringatkan audiens bahwa oknum jahat selalu berupaya memanipulasi kita dan alasan di baliknya. Tujuannya agar hal ini membuat orang waspada, kemudian meningkatkan ketahanan mental mereka terhadap informasi yang salah. Misalnya, memperingatkan bahwa ada lho, orang yang menyesatkan orang lain dengan berjualan obat palsu untuk mendapat keuntungan.

“Penting untuk memberikan isyarat atau peringatan sebelum Anda menyebutkan mitos tersebut, karena Anda ingin membuat orang waspada secara kognitif saat mereka membaca mitos tersebut,” jelas Cook.

Kelima, tambahkan detail informasi

Anda tidak ingin membuat audiens Anda kewalahan, tetapi cobalah mengemas beberapa alasan mengapa ada sesuatu yang salah. Ini membantu meningkatkan kepercayaan, dan mempersenjatai orang dengan argumen tandingan yang dapat mereka gunakan untuk menyanggah klaim saat mereka menghadapinya.

Keenam, gambarkan taktik jahat hoaks

Jika kamu mengoreksi suatu klaim palsu, ingatkan audiens Anda bahwa taktik ini tidak eksklusif untuk contoh ini. Gunakan klaim palsu sebagai contoh pengajaran untuk membantu audiens Anda mengenali taktik atau strategi yang digunakan untuk manipulasi. Terkadang contoh dari sebuah isu yang kurang politis dengan audiens Anda bisa sama efektifnya dengan alat pengajaran.

Ketujuh, jelaskan bagaimana cara kita bisa menelusuri dimana letak kesalahannya, termasuk jika memang ada hal-hal yang belum kita ketahui

Kepercayaan audiens perlu dibangun, dengan cara menjelaskan bagaimana Anda mengetahui apa yang Anda ketahui. Ini membantu mereka mengambil keputusan di saat mereka merasakan pertentangan antara fakta dan mitos. Ini juga akan semakin melatih kepekaan mereka ketika bertemu disinformasi serupa di masa mendatang. 

Tak hanya itu, jelaskan pula apa yang belum Anda ketahui. Hal ini untuk memberitahu mereka, bahwa sejatinya fakta dapat berubah seiring perkembangan situasi.

Bermain gim bisa membangun imunitas dari gempuran hoaks

Salah satu pendekatan yang dinilai efektif membangun imunitas terhadap hoaks adalah dengan bermain gim. Dilansir Cek Fakta Tempo, sejak tahun 2021, para peneliti di Social Decision Lab Universitas Cambridge alias Lab Pengambilan Keputusan Sosial, telah mengembangkan serangkaian permainan online gratis yang menempatkan para pemain agar dapat belajar tentang berbagai teknik manipulasi. 

Bekerja sama dengan DROG dan Gusmanson Design, para peneliti Cambridge meluncurkan 3 online game dengan tema berbeda: Bad News, Harmony Square, dan Go Viral! Para peneliti mengatakan alasan pembuatan game ini adalah untuk membekali pemain dengan keterampilan mengidentifikasi, membantah, dan mencegah misinformasi yang berbahaya menjadi viral.

Sedangkan di Indonesia, sebuah platform bernama Literata.id dikembangkan oleh University of Notre Dame, IREX, GeoPoll dan Moonshot CVE, bekerja sama dengan Mafindo/CekFakta. Platform ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan informasi mengenai literasi media. Di antara kursus virtual yang ditawarkan, ada opsi permainan “Gali Fakta” yang memposisikan kita untuk menyelamatkan keluarga dari bahaya hoaks dan misinformasi.

Penulis: Artika Rachmi Farmita